Meski Hanya Rendang Enak, Harus Dibuang
Disiplin adalah disesuaikan dengan SOP (Standar Operasi Pelayanan), sehingga setiap orang yang mempunyai hoby traveling harus memperhatikan hal-hal yang sedetail-detailnya, agar tidak kecewa dikemudian hari. Seperti hanya teman saya yang harus mengiikuti sebuah acara di luar negeri, takdir berkata lain, yaitu dengan kehadiran seorang bayi yang dilahirkan, maka mau tidak mau harus dibawa.
Tentu sebagai masyarakat modern, dipersiapkanlah "susu" cadangan dengan perangkat dotnya atau susu formula instan yang harus dibawa serta dalam perjalanan, di samping tiket promo yang ia dapatkan dari maskapai. "Tiketnya pun beli dari agen yang ia miliki. Ini kenyataan, membeli tiket dapat komisi."
Tidak ada informasi yang menyebutkan pelarangan membawa susu formula instan tersebut, tetapi saat melewati pemeriksaan, petugas menemukan susu tersebut. Padahal itu benar-benar susu, bukan barang haram dan penumpang mengatakan dengan kejujurannya, bahwa minuman itu untuk sang jabang bayi yang diembannya. Meski petugas melihat, bahwa yang diemban adalah seorang bayi yang mungil dan imut, namun dengan sigap dan tegas mengatakan, "dilarang disertakan dalam pesawat." Apa boleh buat, benda tersebut dibuang. Teman sebelah berkomentar, "jangan-jangan susu yang tadi dibuang, nanti dikumpulkan dan dibagikan kepada crew," Hus, sembarangan itu kan bukan di negara anu nu... ah malas menyebutnya. Pastilah tidak! Kalau mereka ketahuan mengambil benda yang tadi dibuang, bisa-bisa dipecat.
Kemudian ada pula pengalaman teman lainnya yang pernah membawa rendang enak di kopor yang akan ditempatkan di bagasi, setelah melewati pemeriksaan, tampak benda mencurigakan, meski mengetahui bahwa yang dibawa makanan biasa "rendang," tetap saja petugas bersikeras untuk tidak menyertakannya dan dug dug plek, dibuang di tong sampah.
Berebagai kejadi itu menjadi catatan tersendiri, bahwa toleransi bukan sekedar kasihan atau "leubar" terhadap suatu benda, tetapi SOP diterapkan secara ketat. Akan tetapi, namanya juga manusia, jika petugas mempunyai hati nurani dll, maka benda tersebut bisa lolos. Ya kalau itu memang benda halal, boleh jadi kalau menurut keyakinan petugas "bakal" mencelakakan dirinya dengan meloloskan benda asing itu, lebih baik di-piceun saja. Kita juga harus maklum, jika kita yang menjadi petugas, maka tentu akan memperlakukan hal yang sama, karena kalau ternyata barang haram, maka petugas tersebut akan dipecat dan kehilangan pekerjaan alias menganggur. Kalau menganggur, apa bisa diberi pekerjaan menjadi agen tour & travel? Ah terlalu jauh.
Boleh jadi, "coba beritahu mereka, jangan takut dipecat. menjadi agen dari MMBC di luar negeri juga bisa." Kata temannya. Memang kalau menjadi agen tiket, tugasnya harus berjualan terus seperti biro perjalanan konvensional yang sering kita temui? Mereka punya banyak karyawan dan perangkat yang super lengkap. "Tidak mesti seperti itu," tukasnya. Gini saja, coba Anda menghubungi alamat blog ini, siapa tahu bisa bertanya lebih detail, boleh jadi akan dapat potongan yang aduhai, sehingga bisa jualan tiket sambil, berjalan. Ketika bertemu dengan teman lama atau bertemu dengan seseorang yang tidak dikenal sebelumnya, coba kenalkan dirinya, agar mereka tahu, bahwa kita juga menyediakan tiket berbagai layanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar